Tiga Nasihat Kehidupan: Mengingat Kematian, Menjaga Cinta, dan Memperbanyak Amal Kebaikan
1. Pembukaan: Perjalanan Hidup Menuju Allah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan tiga nasihat penting. Pertama, ingatlah bahwa kehidupan dunia pasti berakhir. Kedua, cintailah orang-orang yang kita sayangi dengan cinta yang membawa kita bersama-sama menuju surga. Ketiga, jangan pernah meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun.
Mudah-mudahan tiga nasihat ini menjadi pengingat bagi kita semua.
2. Nasihat Pertama: Ingatlah Kematian dan Persiapkan Husnul Khatimah
Ibu-ibu yang dirahmati Allah, ada sebuah kisah yang menggambarkan betapa besar kerinduan para sahabat kepada Allah Swt.
Dalam kisah yang disampaikan dalam ceramah ini, Sayyidina Abdullah bin Mas‘ud r.a. menceritakan pengalamannya ketika mencari Rasulullah ﷺ pada suatu malam. Beliau mendatangi tempat istirahat Rasulullah, tetapi tidak menemukannya. Beliau kemudian mencari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dan Sayyidina Umar bin Khattab r.a., tetapi keduanya juga tidak berada di tempat istirahat masing-masing.
Ketika melihat cahaya di ujung tenda, beliau mendatangi tempat tersebut. Di sana, beliau mendapati Rasulullah ﷺ bersama Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Di hadapan mereka terdapat jenazah seorang sahabat yang akan dimakamkan.
Dalam kisah tersebut, jenazah itu disebut sebagai Abdullah Dzul Bijadain, seorang sahabat yang dikenal karena pengorbanannya dan kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ kemudian mengurus pemakaman sahabat tersebut dan mendoakannya agar memperoleh rida Allah Swt.
Mendengar dan menyaksikan peristiwa itu, para sahabat merasa sangat terharu. Mereka menyadari betapa besar kemuliaan seorang hamba yang memperoleh perhatian, doa, dan kasih sayang Rasulullah ﷺ.
Ibu-ibu, yang perlu kita renungkan dari kisah ini bukanlah keinginan untuk segera meninggal dunia, melainkan keinginan untuk menghadap Allah dalam keadaan diridai-Nya.
Sebab, setiap manusia pasti akan meninggal dunia. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindarinya.
Allah Swt. berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 185).
Ibu-ibu, siapa pun kita, apa pun pekerjaan kita, berapa pun harta yang kita miliki, dan setinggi apa pun kedudukan kita, semuanya akan menghadapi kematian.
Fir‘aun yang dahulu merasa dirinya berkuasa akhirnya mati. Qarun yang memiliki kekayaan melimpah juga tidak dapat mempertahankan kehidupannya. Orang kaya meninggal dunia, orang miskin meninggal dunia. Orang yang sehat akan meninggal dunia, demikian pula orang yang sedang sakit.
Yang masih kuat berjalan akan meninggal dunia, demikian pula orang yang lututnya sudah sakit dan harus berjalan perlahan-lahan.
Jadi, tidak ada seorang pun yang dapat menjadikan kehidupan dunia sebagai tempat tinggal untuk selama-lamanya.
Karena itu, persoalan terpenting bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita mengakhiri kehidupan ini.
Kita tentu berharap diberikan umur panjang. Kita ingin sehat, ingin menyaksikan anak dan cucu tumbuh dewasa, dan ingin menikmati kebersamaan dengan keluarga. Semua itu wajar. Namun, bersamaan dengan harapan tersebut, kita juga harus memohon agar Allah memberikan husnul khatimah.
Husnul khatimah adalah akhir kehidupan yang baik, yaitu meninggal dalam keadaan beriman dan diridai Allah.
Maka, marilah kita berdoa:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ
اللَّهُمَّ أَمِتْنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
Artinya:
“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami akhir kehidupan yang baik. Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Dunia Hanyalah Tempat Persinggahan
Ibu-ibu, bagaimana seharusnya kita memandang kehidupan dunia?
Bayangkan ketika kita bepergian bersama rombongan menggunakan bus. Di tengah perjalanan, bus berhenti di rest area. Kita turun untuk ke toilet, membeli makanan, minum, atau sekadar meregangkan badan.
Setelah beberapa waktu, sopir memanggil penumpang agar kembali naik ke bus. Apakah kita kemudian membangun rumah di rest area itu? Apakah kita ingin tinggal di sana selama-lamanya?
Tentu tidak. Kita tahu bahwa rest area hanyalah tempat singgah. Tujuan kita masih jauh, sehingga perjalanan harus dilanjutkan.
Begitulah seharusnya kita memandang dunia.
Dunia ini adalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal yang abadi. Kita bekerja, membangun rumah, membesarkan anak, mencari nafkah, dan menikmati berbagai karunia Allah. Semua itu boleh dan bahkan dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan cara yang benar.
Namun, jangan sampai kita terlalu sibuk memperindah tempat persinggahan hingga lupa mempersiapkan tujuan akhir.
Rumah boleh bagus, tetapi hati juga harus bagus. Pakaian boleh indah, tetapi akhlak juga harus indah. Harta boleh banyak, tetapi amal saleh juga harus diperbanyak.
Jangan sampai kita sibuk memikirkan kenyamanan hidup di dunia, tetapi lupa memikirkan bekal untuk akhirat.
Ibu-ibu, kita tidak tahu kapan perjalanan ini berakhir. Ada yang meninggal pada usia muda, ada yang mencapai usia lanjut. Karena itu, selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, gunakanlah waktu untuk memperbaiki diri.
Kalau salat kita masih belum teratur, mari kita perbaiki. Kalau bacaan Al-Qur’an kita masih jarang, mari kita biasakan. Kalau hubungan dengan keluarga sedang tidak baik, mari kita perbaiki. Kalau kita pernah menyakiti orang lain, mari kita meminta maaf.
Jangan menunggu tua untuk mulai menjadi baik. Jangan menunggu sakit untuk mulai mengingat Allah. Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa berharganya kebersamaan.
Semoga Allah memberikan kepada kita umur yang berkah dan akhir kehidupan yang husnul khatimah.
3. Nasihat Kedua: Cintailah Seseorang, tetapi Ingatlah bahwa Kita Akan Berpisah
Ibu-ibu yang dirahmati Allah, nasihat kedua yang disampaikan dalam riwayat nasihat kepada Rasulullah ﷺ adalah tentang cinta dan perpisahan.
Dalam nasihat yang masyhur disebutkan:
وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ
“Cintailah siapa pun yang engkau kehendaki, tetapi ingatlah bahwa engkau akan berpisah dengannya.”
Kalimat ini bukan mengajarkan kita agar tidak mencintai siapa pun. Justru sebaliknya, kita boleh dan perlu mencintai keluarga, pasangan, anak-anak, sahabat, serta orang-orang yang membawa kebaikan dalam kehidupan kita.
Akan tetapi, kita harus memahami bahwa kebersamaan di dunia tidak berlangsung selamanya.
Ibu-ibu, siapa yang mencintai suaminya? Banyak, alhamdulillah. Siapa yang mencintai anak-anaknya? Tentu semuanya mencintai anak-anaknya.
Namun, sebesar apa pun cinta kita kepada keluarga, suatu saat kita mungkin akan meninggalkan mereka, atau mereka yang lebih dahulu meninggalkan kita.
Karena itu, cinta yang baik bukan hanya cinta yang membuat kita bahagia di dunia. Cinta yang lebih sempurna adalah cinta yang membantu kita mendekat kepada Allah dan berharap dapat berkumpul kembali di surga.
Kalau kita mencintai suami, jangan hanya berkata, “Bang, saya ingin bersama Abang sampai tua.” Tambahkan pula dalam doa, “Ya Allah, bimbinglah kami agar bisa bersama-sama sampai ke surga-Mu.”
Begitu pula kepada anak-anak. Jangan hanya memikirkan bagaimana mereka mendapatkan pendidikan yang tinggi, pekerjaan yang baik, dan kehidupan yang nyaman. Pikirkan juga bagaimana mereka menjadi anak yang saleh, menjaga salat, mencintai Al-Qur’an, dan memiliki akhlak yang mulia.
Sebab, keberhasilan mendidik anak tidak hanya diukur dari kekayaan atau kedudukan yang mereka peroleh, tetapi juga dari iman dan akhlak yang mereka miliki.
Cinta Orang Tua Harus Disertai Pendidikan
Ibu-ibu, terkadang atas nama cinta, orang tua membela semua tindakan anaknya, sekalipun anak itu melakukan kesalahan.
Ketika anak berbuat salah, orang tua langsung membelanya. Ketika anak meminta sesuatu, semuanya diberikan. Ketika anak melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya, orang tua justru membiarkannya karena tidak ingin anak kecewa.
Apakah itu selalu merupakan bentuk cinta yang benar?
Misalnya, anak yang masih belum cukup umur sudah mengendarai sepeda motor tanpa memahami keselamatan berlalu lintas. Orang tua membiarkannya karena takut anak marah jika dilarang.
Atau, anak belum terbiasa membaca Al-Qur’an, tetapi orang tua tidak merasa perlu membimbingnya. Sebaliknya, ketika anak tidak memiliki telepon genggam seperti teman-temannya, orang tua merasa harus segera membelikannya.
Ibu-ibu, tentu kita ingin membahagiakan anak. Akan tetapi, jangan sampai kita hanya memenuhi keinginan mereka dan melupakan kebutuhan rohani mereka.
Anak membutuhkan makanan, pakaian, pendidikan, dan kasih sayang. Namun, mereka juga membutuhkan bimbingan agama, teladan yang baik, serta keberanian orang tua untuk mengatakan benar ketika sesuatu memang benar dan salah ketika sesuatu memang salah.
Jangan sampai karena terlalu mencintai anak, kita justru membiarkannya tumbuh tanpa arah.
Cinta yang sesungguhnya bukan sekadar membuat anak senang hari ini, tetapi juga membantunya menjadi manusia yang baik pada masa depan.
Maka, ketika kita mencintai keluarga, ajaklah mereka mendekat kepada Allah. Biasakan salat bersama, membaca Al-Qur’an, berkata jujur, menghormati orang tua, dan membantu sesama.
Semoga cinta kita kepada keluarga menjadi jalan untuk berkumpul kembali di surga.
Persahabatan yang Membawa Kita kepada Kebaikan
Ibu-ibu, nasihat ini juga berlaku untuk persahabatan.
Kita tentu senang mempunyai sahabat. Ada sahabat untuk pergi mengaji, menghadiri majelis Maulid, berbagi cerita, dan saling membantu ketika mengalami kesulitan.
Namun, persahabatan yang baik bukan sekadar sering bertemu atau selalu pergi bersama. Persahabatan yang baik adalah persahabatan yang membawa kita semakin dekat kepada Allah.
Kalau kita mempunyai sahabat yang rajin mengaji, mari kita saling menguatkan. Kalau sahabat kita sedang menghadapi masalah, bantulah semampu kita. Kalau kita melihat sahabat melakukan kesalahan, ingatkan dengan cara yang baik.
Jangan sampai kita hanya kompak ketika bersenang-senang, tetapi saling meninggalkan ketika salah seorang membutuhkan pertolongan.
Al-Qur’an mengingatkan kita tentang penyesalan sebagian orang yang dahulu menjadikan teman yang buruk sebagai sahabat dekat.
Allah Swt. berfirman:
يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
Artinya:
“Celaka aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrabku.” (QS. Al-Furqān [25]: 28).
Ayat ini mengajarkan bahwa pertemanan dapat memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan dan akhirat kita.
Karena itu, pilihlah sahabat yang mengingatkan kita kepada Allah. Persahabatan yang baik bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat, melainkan tetap saling menjaga dalam kebaikan.
Mudah-mudahan sahabat-sahabat kita di majelis ilmu menjadi sahabat yang membantu kita memperbaiki amal, menjaga keimanan, dan memperoleh rida Allah Swt.
4. Nasihat Ketiga: Beramallah, karena Semua Akan Mendapatkan Balasan
Ibu-ibu yang dirahmati Allah, nasihat ketiga mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasan.
Dalam nasihat yang masyhur disebutkan:
وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ
“Berbuatlah apa yang engkau kehendaki, tetapi ingatlah bahwa engkau akan mendapatkan balasan atas perbuatanmu.”
Kalimat ini bukan berarti kita bebas melakukan apa saja. Sebaliknya, kalimat ini merupakan peringatan agar kita berhati-hati dalam bertindak, sebab setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Allah Swt. berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8).
Perhatikan, ibu-ibu. Allah tidak hanya mengingatkan kita tentang dosa-dosa besar. Bahkan, kebaikan sekecil zarah pun tidak diabaikan.
Karena itu, jangan pernah berkata, “Ah, ini cuma kebaikan kecil. Tidak ada artinya.”
Justru bisa jadi, kebaikan kecil yang kita lakukan dengan ikhlas menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada kita.
Bayangkan ketika kita sedang berjalan, lalu melihat kulit pisang tergeletak di tengah jalan. Orang lain mungkin tidak memperhatikannya. Namun, kita berpikir bahwa seseorang bisa terpeleset jika menginjaknya.
Kemudian kita mengambil kulit pisang itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Kelihatannya sederhana, bukan? Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada orang yang memberikan penghargaan. Bahkan, mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahui perbuatan kita.
Namun, kita melakukannya karena ingin menjaga orang lain dari bahaya.
Begitulah kebaikan. Tidak harus selalu besar, tidak harus selalu terlihat, dan tidak harus selalu diketahui orang lain.
Membantu tetangga, menjenguk orang sakit, mengantarkan seseorang yang membutuhkan pertolongan, memberikan makanan kepada orang yang lapar, atau menghibur orang yang sedang bersedih juga merupakan perbuatan yang bernilai jika dilakukan dengan niat yang baik.
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk membantu orang lain. Jangan menunggu menjadi orang penting untuk melakukan kebaikan.
Selama kita masih mampu, lakukanlah kebaikan sekecil apa pun.
Mengenang Orang yang Telah Wafat dengan Kebaikannya
Ibu-ibu, ketika seseorang meninggal dunia, kita sering mengenang berbagai hal tentang dirinya. Ada yang mengenang keramahan almarhum, ada yang mengingat kebaikannya kepada tetangga, dan ada yang mengingat pertolongannya ketika orang lain mengalami kesulitan.
Karena itu, ketika kita mengingat orang yang telah wafat, marilah kita menyebutkan kebaikan-kebaikannya dan mendoakannya. Tidak perlu membuka kekurangan atau aibnya.
Dalam ceramah ini, saya teringat kepada almarhumah Ibu Arafah binti Haji Hamdani, sosok yang dikenang karena kebaikannya dalam membantu orang lain.
Bagi saya, salah satu hal yang sangat membekas adalah kesediaan beliau untuk membantu selama beliau mampu. Ketika dimintai pertolongan, beliau berusaha hadir, mengantar, atau menemani orang yang membutuhkan.
Bahkan, ketika ibu saya sedang dirawat di rumah sakit, beliau bersedia membantu dan menemani. Kebaikan seperti itu mungkin terlihat sederhana bagi orang yang melakukannya, tetapi dapat menjadi kenangan yang sangat berharga bagi orang yang menerima pertolongan.
Ibu-ibu, orang yang baik bukan hanya orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi orang yang kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain.
Semoga Allah menerima amal saleh almarhumah, mengampuni dosa-dosanya, melapangkan kuburnya, dan menjadikan kebaikan-kebaikannya sebagai pemberat timbangan amalnya.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Kita juga mendoakan keluarga yang ditinggalkan agar diberikan kesabaran dan ketabahan. Semoga anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang saleh dan salehah serta meneruskan kebaikan yang telah dicontohkan oleh orang tuanya.
Dalam keluarga tersebut, ada pula anak yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Mudah-mudahan hafalan itu menjadi jalan kebaikan, diamalkan dalam kehidupan, dan membawa keberkahan bagi dirinya serta keluarganya.
Kita berharap Allah memberikan pahala atas segala usaha mendidik anak dalam kebaikan. Adapun urusan pahala, ampunan, dan kemuliaan di akhirat, semuanya kita serahkan kepada rahmat dan keadilan Allah Swt.
5. Penutup: Jadikan Hidup sebagai Kesempatan Berbuat Baik
Ibu-ibu yang dirahmati Allah, mari kita simpulkan tiga nasihat yang telah kita bahas.
Pertama, ingatlah kematian dan persiapkan husnul khatimah. Jangan hanya memikirkan panjangnya umur, tetapi pikirkan pula bagaimana kita menggunakan umur tersebut. Selagi masih diberi kesempatan hidup, perbaikilah salat, perbanyaklah zikir, bacalah Al-Qur’an, dan jagalah hubungan dengan sesama manusia.
Kedua, cintailah keluarga dan sahabat dengan cinta yang membawa kepada Allah. Kita akan berpisah dengan orang-orang yang kita cintai di dunia. Karena itu, jangan hanya berusaha membahagiakan mereka dalam urusan dunia, tetapi bimbinglah pula mereka dalam iman dan amal saleh. Semoga Allah mempertemukan kembali kita dengan orang-orang yang kita cintai di surga-Nya.
Ketiga, jangan pernah meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun. Senyuman yang tulus, bantuan kepada tetangga, sedekah sederhana, ucapan yang menenangkan, dan usaha menghindarkan orang lain dari bahaya dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah.
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Jangan menunggu kaya untuk membantu. Jangan menunggu tua untuk memperbanyak ibadah.
Mulailah dari sekarang, dari hal-hal yang sederhana, dan lakukanlah dengan ikhlas.
Semoga Allah memberikan kepada kita umur yang berkah, hati yang selalu mengingat-Nya, keluarga yang saleh dan salehah, sahabat yang membawa kepada kebaikan, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا، وَاجْمَعْنَا بِأَهْلِنَا وَأَحِبَّتِنَا فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ.
Artinya:
“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami akhir kehidupan yang baik. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau rida kepada kami, dan kumpulkanlah kami bersama keluarga serta orang-orang yang kami cintai di surga yang penuh kenikmatan.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian. Kebenaran datang dari Allah Swt., sedangkan kekurangan dalam perkataan dan penyampaian merupakan keterbatasan saya sebagai manusia.
Semoga Allah menjadikan majelis ini sebagai majelis yang bermanfaat dan penuh keberkahan.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Komentar
Posting Komentar