MENJAGA KEHALALAN REZEKI DAN KEMURNIAN AMAL
KHUTBAH JUMAT
MENJAGA KEHALALAN REZEKI DAN KEMURNIAN AMAL
MASJID JAMI ALMANAR LIMO DEPOK
Oleh : Dr. H. Taufik Abdillah Syukur, Lc., MA
الحمد لله الحمد لله الذي أحل الحلال وحرّم الحرام، وأمر بالطيب من الأقوال والأعمال والأرزاق، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله الصادق الأمين، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون، قال الله تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga dalam kesungguhan kita menjaga kehalalan rezeki, kebersihan hati, dan keikhlasan amal.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah hadis agung yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ»
"Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik."
Kalimat pertama hadis ini mengandung prinsip besar dalam agama Islam, yaitu bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Suci, Maha Bersih, dan Maha Sempurna. Tidak ada sedikit pun kekurangan pada-Nya. Karena itu, Allah tidak menerima dari hamba-Nya kecuali sesuatu yang baik, suci, dan bersih.
Segala bentuk ibadah yang dilakukan seorang hamba harus dibangun di atas fondasi yang benar. Amal yang besar tidak akan bernilai apabila tercampuri oleh niat yang rusak. Sedekah yang banyak tidak akan diterima apabila berasal dari harta yang haram.
Karena itu para ulama mengatakan:
الطَّيِّبُ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
"Yang suci tidak menerima kecuali yang suci."
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kaum mukminin sebagaimana Dia memerintahkan para rasul.
Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾
"Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan."
Perhatikanlah susunan ayat ini. Allah mendahulukan perintah memakan yang halal sebelum perintah beramal saleh.
Ini menunjukkan bahwa makanan yang halal memiliki pengaruh besar terhadap kualitas ibadah dan amal seorang hamba.
Para ulama menjelaskan bahwa makanan adalah bahan bakar kehidupan. Apabila bahan bakar itu halal, maka hati menjadi lembut, pikiran menjadi jernih, dan amal menjadi mudah. Sebaliknya, apabila makanan berasal dari yang haram, maka hati menjadi keras, jiwa menjadi gelap, dan ibadah kehilangan kenikmatannya.
Kemudian Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian."
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak cukup hanya mencari rezeki, tetapi juga harus memastikan bahwa rezekinya halal dan baik.
Hari ini banyak manusia berlomba mencari kekayaan, namun sedikit yang bertanya dari mana harta itu diperoleh. Padahal keberkahan hidup tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh kehalalannya.
Betapa banyak orang yang hartanya melimpah tetapi hidupnya penuh kegelisahan. Sebaliknya, betapa banyak orang yang hartanya sederhana namun hidupnya penuh ketenangan, karena rezeki yang diperolehnya bersih dan halal.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Dalam kehidupan modern saat ini, godaan memperoleh harta haram semakin besar. Praktik riba, penipuan, korupsi, suap, manipulasi, penggelapan, dan berbagai bentuk kecurangan sering dianggap sebagai hal biasa.
Padahal Rasulullah ﷺ telah memperingatkan:
كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
"Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas baginya."
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Pada bagian akhir hadis ini, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah gambaran yang sangat menyentuh.
Beliau bersabda:
«ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟»
Rasulullah menceritakan seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh. Rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, mengangkat kedua tangannya ke langit sambil memohon:
"Ya Rabb... Ya Rabb..."
Padahal keadaan seperti ini merupakan sebab-sebab terkabulnya doa:
Safar adalah salah satu kondisi mustajab doa.
Kerendahan hati adalah sebab diterimanya doa.
Mengangkat tangan adalah adab berdoa.
Menyebut "Ya Rabb" berulang kali menunjukkan kesungguhan dan harapan.
Namun seluruh sebab tersebut menjadi terhalang karena satu perkara, yaitu keharaman yang melekat pada kehidupannya.
Makanannya haram.
Minumannya haram.
Pakaiannya haram.
Bahkan tubuhnya tumbuh dari yang haram.
Maka Nabi ﷺ bertanya:
«فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟»
"Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?"
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa hubungan dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari hubungan kita dengan harta.
Banyak orang menginginkan doanya dikabulkan, tetapi tidak berusaha membersihkan sumber penghasilannya.
Banyak yang berharap hidupnya berkah, tetapi tidak berhati-hati dalam urusan halal dan haram.
Karena itu para ulama mengajarkan tiga bekal utama dalam mencari rezeki yang halal.
Pertama, ilmu.
Seseorang harus memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan pekerjaannya agar tidak terjatuh ke dalam perkara haram.
Kedua, wara' atau kehati-hatian.
Tidak semua yang menguntungkan itu halal, dan tidak semua yang halal itu membawa keberkahan apabila dilakukan dengan cara yang salah.
Ketiga, doa.
Kita harus senantiasa memohon kepada Allah agar diberi rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan.
Sebagaimana doa yang diajarkan para ulama:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga terhindar dari yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu."
Hadirin yang berbahagia,
Setiap muslim wajib berhati-hati dalam mencari nafkah. Seorang pedagang harus jujur dalam berdagang. Seorang pegawai harus amanah dalam bekerja. Seorang pejabat harus menjaga kepercayaan rakyat. Seorang guru harus mendidik dengan penuh tanggung jawab. Jangan sampai kita rajin beribadah tetapi lalai menjaga kehalalan penghasilan kita.
Marilah kita jadikan keluarga kita sebagai keluarga yang menjaga kehalalan makanan, minuman, dan penghasilan. Karena dari makanan halal lahir hati yang bersih. Dari hati yang bersih lahir amal yang ikhlas. Dari amal yang ikhlas lahir keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاَوتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ أَقوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِه الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ
فيا عباد الله اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ للّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالـْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ زَمَان وَ فِي مَكَانٍ. اللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّة سيدنا مُحَمَّد اللَّهُمَّ انصرأُمَّة سيدنا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ سيدنا مُحَمّد رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِوَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Komentar
Posting Komentar