Haul 2026

 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

الْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ  أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ.  اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، وَنَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ.  أَمَّا بَعْدُ: اللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ يَفْعَلُوْنَ، وَمِنَ الَّذِيْنَ يَفْعَلُوْنَ يُخْلِصُوْنَ، وَمِنَ الَّذِيْنَ يُخْلِصُوْنَ يُقْبَلُوْنَ. حَضْرَةَ الْمُكَرَّمِيْنَ وَالْمُحْتَرَمِيْنَ، رَحِمَكُمُ الله،

Yang kami hormati guru kami tercinta, murabbi rūḥinā, Ayahanda KH. Syamsul Ma’arif Hamzah – (متَّعَهُ اللهُ بِطُولِ الْحَيَاةِ مَعَ الصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ)

Yang kami cintai, Gus Muhammad Fâtih Farha Lubbi, Gus Muhammad ‘Isâ Bustomi, Gus Muhammad Sudaryanto, Gus Muhammad Najiburrahman, Gus Adi Purnama beserta keluarga. Serta yang kami hormati, para alim ulama, para tokoh masyarakat, para pimpinan pondok pesantren, dan seluruh jamaah Dzikrul Ghafilin, jamaah haul, yang kami tidak dapat sebutkan satu per satu namanya, namun tidak mengurangi rasa hormat dan takdzim kami.

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah mengumpulkan kita di majelis mulia ini dalam rangka mengenang dan mendoakan almarhumah Ibu Nyai Hj. Lilik Malihah Urfiyah binti H. Muhammad Ali Gumin. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau, menjadikan kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga, dan mengangkat derajat beliau bersama para kekasih-Nya. Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn. Dan kita berdoa untuk guru kita tercinta, murabbī rūḥinā, Ayahanda KH. Syamsul Ma’arif Hamzah. Semoga Allah panjangkan umur beliau dalam sehat wal afiat dan semoga kita semua yang hadir dalam peringatan haul ini mendapatkan keberkahan guru kita yang mulia, Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn. Al-Fâtihah…

Hadirin yang dimuliakan Allah

Ada kisah, Suatu hari, anak Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menanyakan kepadanya, “Wahai ayahku, bagaimana sosok gurumu Imam As-Syafi’i itu? Aku mendengar bahwa engkau banyak mendoakannya.” Imam Ahmad bin Hanbal menjawab, “Wahai anakku, Imam As-Syafi’i itu diperumpamakan seperti matahari bagi dunia, dan kesehatan bagi manusia.

قَالَ الإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: مَا نِمْتُ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً إِلَّا وَأَنَا أَدْعُو لِلْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَأَسْتَغْفِرُ لَهُ.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata, “Tidaklah aku tidur sejak tiga puluh tahun, melainkan aku pasti mendoakan guruku  Imam As-Syafi’I ” dan di dalam kitab Siyar ‘Alaam an-Nubala karya imam az-Zahabi dalam Manaqib Imam Syafi’i Rahimakumullah, Diriwayatkan bahwa Ahmad bin Laits pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

إِنِّي لَأَدْعُو اللَّهَ لِلشَّافِعِيِّ فِي صَلَاتِي مُنْذُ أَرْبَعِينَ سَنَةً

 “Sungguh, aku mendoakan guruku Imam As-Syafi’i di dalam shalatku selama 40 tahun.” dan doa yang di baca adalah : 

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيسَ الشَّافِعِي

“Ya Allah, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan Muhammad bin Idrris As-Syafi’i.”Ringkasnya: Selama 40 tahun, Imam Ahmad tidak pernah meninggalkan doa untuk gurunya. Ini menunjukkan bahwa hubungan murid dan guru tidak berhenti saat belajar, tetapi terus hidup dalam doa.

Dalam Manaqib Imam Abu Hanifah, disebutkan bahwa :
نُقِلَ عَنِ الْإِمَامِ أَبِي يُوسُفَ (تِلْمِيذِ أَبِي حَنِيفَةَ) أَنَّهُ قَالَ: إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ لِأَبِي حَنِيفَةَ قَبْلَ وَالِدَيَّ


(diriwayatkan dari Abu Yusuf, murid Abu Hanifa, dalam Manaqib al-Kardari) “Dinukil dari Imam Abu Yusuf (murid Abu Hanifah), bahwa beliau berkata: ‘Sungguh, aku benar-benar mendoakan dan memohonkan ampun untuk guruku Imam Abu Hanifah sebelum kedua orang tuaku.’”

Hadirin yang dirahmati Allah…

Inilah adab para ulama… hubungan murid dan guru… tidak berhenti di bangku belajar… tetapi terus hidup… dalam doa

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dari mana kita dapatkan pengetahuan tentang adab para ulama tadi, kecuali dari manaqib manaqib mereka. Seperti manaqib Imam Imam Syafi’i, dan manaqib Imam Abu Hanifah.

Maka haul ini menjadi penting karena di dalam haul itu dibacakan manaqib atau disebutkan kebaikan-kebaikan orang yang dihauli, agar dapat menjadi teladan bagi generasi setelahnya. Karena kata Nabi.

اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ

“Sebutlah kebaikan-kebaikan orang yang telah meninggal diantara kalian”.

Maka sungguh sangat disayangkan… apabila tradisi haul dan manaqib ini … tidak kita wariskan kepada anak-anak kita… Jangan sampai mereka tumbuh… tanpa mengenal kebaikan-kebaikan dan ajaran kakek neneknya.

Hadirin yang dirahmati Allah, Selanjutnya ….

Saya pribadi tidak pernah bosan untuk terus menasihati diri saya sendiri dengan tiga prinsip yang telah diajarkan oleh guru kita yang mulia, KH. Syamsul Ma’arif Hamzah, sebagai bekal meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

memperbanyak dzikir, memperbanyak sedekah, menyenangkan guru dan orang tua.

Insya Allah, jika tiga prinsip ini kita jalani, kita rasakan, dan kita yakini dengan sungguh-sungguh, maka kita akan menjadi orang yang bahagia—bukan hanya di dunia, tetapi terlebih lagi di akhirat yang kekal selamanya. Banyak manfaat yang di dapatkan di dunia terlebih lagi di akhirat. Gus Lubbi sangat menyukai Surat Ad-Dhuha, karena di dalamnya terdapat firman Allah:

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

“Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang pertama (dunia).”Begitu pula dalam surat al-‘ala:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

Maka orang yang menyiapkan bekal untuk negeri akhirat itulah orang yang benar-benar cerdas, karena kehidupan akhirat yang jauh lebih baik dan kekal abadi. Makanya Rasulullah bersabda:

 الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.

Maka orang yang cerdas kata Nabi, orang yang mempersiapkan bekal di mulai dari saat sakarotul maut, saat di alam kubur, saat di padang mahsyar, saat di yaumul hisab, saat di titian sirotul mustaqim, dan seterusnya seterusnya.

Maka denga napa kita mempersiapkan bekal tersebut. Maka mempersiapkannya dengan 3 amalan tadi memperbanyak dzikir, memperbanyak sedekah, menyenangkan guru dan orang tua.

Prinsip pertama adalah (كثرة الذكر), yaitu memperbanyak dzikir. Dalam cover kitab Zikrul Ghafilin disebutkan:

ذِكْرُ الْغَافِلِينَ لِمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُحْشَرَ مَعَ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ

 “Dzikir ini menjadi amalan bagi siapa yang ingin dikumpulkan bersama para wali dan orang-orang saleh.”

Semaan Al-Qur’an atau khatmul Quran yang bias akita baca sebelum zikrul ghafilin semoga menjadi syafaat penolong bagi kita.  Rasulullah bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

 “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi para pembacanya.”

Dalam hadits lain disebutkan:

اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

 “Bacalah, naiklah derajatmu, dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.”

Hadits ini menunjukkan bahwa kedudukan seseorang di surga sangat berkaitan dengan kedekatannya dengan Al-Qur’an. Semakin ia membaca, memahami, dan mengamalkannya, semakin tinggi pula derajatnya di sisi Allah.

Selanjutnya, amalan shalawat yang kita lantunkan juga menjadi bekal di akhirat. Rasulullah bersabda:

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

 “Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”

Bekal kedua yang perlu kita siapkan untuk kehidupan akhirat adalah (كثرة الصدقة), yaitu memperbanyak sedekah.

Rasulullah bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُرَاةً مَا كَانُوا قَطُّ، وَأَجْوَعَ مَا كَانُوا قَطُّ، وَأَعْطَشَ مَا كَانُوا قَطُّ، وَأَنْصَبَ مَا كَانُوا قَطُّ، فَمَنْ كَسَا لِلَّهِ كَسَاهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَطْعَمَ لِلَّهِ أَطْعَمَهُ اللَّهُ، وَمَنْ سَقَى لِلَّهِ سَقَاهُ اللَّهُ.

Rasulullah Saw bersabda: “Manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar, pada hari Kiamat dalam keadaan telanjang seperti yang belum pernah mereka alami sebelumnya, dalam keadaan paling lapar yang belum pernah mereka rasakan, paling haus yang belum pernah mereka rasakan, dan paling letih yang belum pernah mereka alami. Maka barang siapa memberi pakaian karena Allah, Allah akan memberinya pakaian.  Barang siapa memberi makan karena Allah, Allah akan memberinya makan. Dan barang siapa memberi minum karena Allah, Allah akan memberinya minum.” (HR. Ahmad)

kita juga perlu menyiapkan bekal untuk hari hisab. Nabi pernah memberi kisi-kisi apa yang pertama kali di tanya saat yamul hisab.

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

 “Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat.” Jika shalatnya baik, maka ia akan beruntung. Namun jika shalatnya rusak, maka ia akan merug

 

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Bekal ketiga yang perlu kita siapkan adalah (إدخال السرور), yaitu membahagiakan guru dan kedua orang tua, serta menjaga hati mereka agar tidak tersakiti.

Kita tentu pernah mendengar kisah seorang sahabat bernama Alqamah. Ia dikenal sebagai orang yang rajin beribadah—shalat, puasa, dzikir, sedekah, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Namun dalam kehidupan rumah tangganya, ia pernah melukai hati ibunya.

Ketika ajal menjemput, Alqamah mengalami sakaratul maut yang berat. Para sahabat menuntunnya membaca لا إله إلا الله, namun lisannya terasa sulit untuk mengucapkannya.

Kabar ini sampai kepada Rasulullah . Beliau pun menanyakan keadaan ibunya. Ternyata sang ibu masih menyimpan kekecewaan dan belum ridha terhadap anaknya.

Rasulullah kemudian meminta agar sang ibu dibujuk untuk memaafkan. Pada awalnya ia tetap tidak ridha. Hingga akhirnya, dengan hikmah dan peringatan yang menyentuh hati, sang ibu pun luluh dan berkata, “Aku ridha kepada anakku.”

Setelah ibunya benar-benar memaafkan, barulah Alqamah mampu mengucapkan kalimat لا إله إلا الله, dan ia pun wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dari kisah ini kita belajar:

Ridha Allah… tergantung ridha orang tua…

Menyakiti hati orang tua… bisa menyebabkan kita tidak bisa mati husnul khatimah

و العياذ بالله والعفو منكم و السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tujuan Hidup Manusia

Sambutan Wisuda TK

KHUTBAH IDUL ADHA 1446/ 2025