hadits ke 40 Menjadi Musafir di Dunia, Membangun Orientasi Akhirat

 

KHUTBAH PERTAMA

Tema: Menjadi Musafir di Dunia, Membangun Orientasi Akhirat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan sekadar ucapan, bukan sekadar identitas, tetapi kesadaran hidup: dari mana kita datang, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita akan kembali.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di zaman ini, manusia sibuk mengejar dunia. Pagi sampai malam, pikirannya penuh target dunia. Bangun tidur memikirkan uang. Berangkat kerja memikirkan jabatan. Pulang ke rumah memikirkan cicilan. Bahkan sebelum tidur pun memikirkan dunia.

Padahal pertanyaan besarnya adalah:
Untuk apa semua itu?

Kalau ujung hidup adalah kematian, lalu apa yang sudah kita siapkan setelah kematian?

Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang sangat mendalam dalam sebuah hadits agung:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِمَنْكِبِي فَقَالَ:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Ibnu Umar berkata: Rasulullah ﷺ memegang pundakku lalu bersabda:

"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir."
(رواه البخاري)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Perhatikan, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan: tinggalkan dunia.

Tidak.

Islam tidak melarang kaya.
Islam tidak melarang sukses.
Islam tidak melarang memiliki jabatan.

Tetapi Rasulullah mengajarkan:
jangan jadikan dunia sebagai rumah utama hati kita.

Karena dunia ini hanya tempat singgah.

Rumah kita yang sebenarnya bukan di sini.

Allah berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Ali Imran: 185)

Saudaraku,

Rasulullah menggunakan kata غريب (gharib) — orang asing.

Apa ciri orang asing?

Orang asing tidak merasa memiliki tempat itu.

Orang asing tidak terlalu nyaman.

Orang asing selalu ingat kampung halamannya.

Begitu juga orang beriman.

Dia hidup di dunia, tapi hatinya tidak tenggelam dalam dunia.

Dia bekerja, tapi tidak diperbudak pekerjaan.

Dia punya harta, tapi tidak diperbudak harta.

Dia punya jabatan, tapi tidak mabuk jabatan.

Karena dia tahu:
ini bukan rumahku.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lalu Rasulullah ﷺ menggunakan kata kedua:

عَابِرُ سَبِيلٍ
musafir.

Musafir itu tidak sibuk mempercantik tempat singgah.

Bayangkan seseorang sedang perjalanan jauh, lalu mampir di rest area.

Apakah dia bangun rumah di situ?

Tidak.

Apakah dia beli tanah di situ?

Tidak.

Kenapa?

Karena itu bukan tujuan akhir.

Begitulah dunia.

Masalahnya, banyak manusia mengira rest area adalah tujuan akhir.

Mereka sibuk memperindah dunia, tetapi lupa menyiapkan akhirat.

Rumah megah dibangun, tapi kubur tidak dipikirkan.

Tabungan dipenuhi, tapi amal kosong.

Jabatan dikejar, tapi shalat dilalaikan.

Popularitas dicari, tapi ridha Allah dilupakan.

Na‘ūdzu billāh.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Penyakit terbesar manusia adalah حب الدنيا (cinta dunia).

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa cinta dunia adalah pangkal kehancuran.

Kenapa?

Karena cinta dunia membuat orang menunda taubat.

Nanti.

Masih muda.

Masih panjang umur.

Padahal siapa yang bisa menjamin umur?

Berapa banyak orang pagi masih sehat, sore sudah jadi jenazah.

Berapa banyak yang malam masih tertawa, pagi sudah dikafani.

Kematian tidak menunggu tua.

Kematian tidak menunggu kaya.

Kematian tidak menunggu selesai urusan dunia.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:

إِنَّ الدُّنْيَا قَدْ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدْ ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً

“Sesungguhnya dunia sedang pergi menjauh, dan akhirat sedang datang mendekat.”

Saudaraku,

Setiap detik umur kita berkurang.

Bukan bertambah.

Setiap hari yang lewat, hakikatnya kita sedang mendekat ke kubur.

Pertanyaannya:

Apa bekal kita?

Shalat kita bagaimana?

Qur’an kita bagaimana?

Taubat kita bagaimana?

Hutang kita bagaimana?

Hubungan kita dengan manusia bagaimana?

Sudahkah kita meminta maaf?

Sudahkah kita mengembalikan hak orang?

Sudahkah kita meninggalkan yang haram?

Karena setelah mati, semua selesai.

Dunia adalah tempat amal.

Akhirat adalah tempat hisab.

Hari ini kita bisa sujud.

Besok belum tentu.

Hari ini kita bisa istighfar.

Besok belum tentu.

Hari ini kita bisa bertaubat.

Besok belum tentu.

Maka jangan menunda.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Ibnu Umar رضي الله عنهما melanjutkan nasihat yang sangat mengguncang hati:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ

“Jika engkau di sore hari, jangan tunggu pagi. Jika engkau di pagi hari, jangan tunggu sore.”

Apa maksudnya?

Hiduplah dengan kesadaran bahwa kematian itu dekat.

Bukan untuk membuat kita takut hidup.

Tetapi agar kita serius hidup.

Karena orang yang ingat mati akan memperbaiki hidupnya.

Dia tidak menunda taubat.

Dia menjaga shalat.

Dia menjaga lisan.

Dia menjaga pandangan.

Dia menjaga hati.

Ibnu Umar melanjutkan:

وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Gunakan sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.”

Jamaah sekalian,

Sehat adalah kesempatan.

Waktu luang adalah kesempatan.

Masa muda adalah kesempatan.

Jangan tunggu tua untuk taat.

Karena tidak semua orang diberi kesempatan menjadi tua.

Jangan tunggu sakit untuk ingat Allah.

Karena ketika sakit, ibadah menjadi berat.

Gunakan waktu sekarang.

Perbaiki shalat.

Perbaiki akhlak.

Perbaiki hubungan dengan orang tua.

Perbaiki hubungan dengan pasangan.

Didik anak-anak dengan agama.

Cari rezeki halal.

Tinggalkan yang haram.

Lunasi hutang.

Minta maaf.

Selesaikan urusan dengan manusia.

Karena kita tidak tahu kapan dipanggil Allah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita luruskan orientasi hidup.

Kerja, silakan.

Usaha, silakan.

Belajar, silakan.

Jadi kaya, silakan.

Tetapi jangan sampai dunia masuk ke hati.

Pegang dunia di tangan, jangan di hati.

Karena yang di tangan bisa dilepas.

Yang di hati sulit dicabut.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sadar bahwa dunia hanyalah persinggahan, dan akhirat adalah tujuan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ لِقَائِكَ.

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHUTBAH IDUL ADHA 1446/ 2025

TAKHALLI, TAHALLI, DAN TAJALLI

BERSYUKUR