Mencintai Rasulullah ﷺ: Membasahi Lisan dengan Selawat dan Meneladani Akhlaknya

 


 

1. Pembukaan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Wash-shalātu was-salāmu ‘alā Sayyidinā wa Maulānā Muḥammadin, wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa man wālāh.

Amma ba‘du.

 

2. Bekal Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Aḥzāb [33]: 56).

Ibu-ibu yang dirahmati Allah, saya ingin mengajak kita semua merenungkan sebuah kisah tentang kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Suatu hari, Rasulullah ﷺ sedang duduk bersama para sahabat. Mereka berkumpul untuk belajar, mendengarkan nasihat, dan memperdalam ajaran Islam. Suasananya tenang, sebagaimana kita saat ini duduk bersama di majelis ilmu.

Tiba-tiba, datang seorang Arab Badui. Ia mengangkat suara dan bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat terjadi?”

Para sahabat tentu memperhatikan pertanyaan itu. Rasulullah ﷺ kemudian tidak langsung menjawab dengan menyebutkan waktu kiamat. Beliau justru mengarahkan orang tersebut kepada sesuatu yang lebih penting: bekal untuk menghadapi hari kiamat.

Pertanyaan itu seolah mengingatkan kita semua: kalau kita ingin mengetahui kapan hari akhir datang, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya? Sudahkah kita memperbanyak amal saleh? Sudahkah kita memperbaiki salat, memperbanyak zikir, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia?

Dalam kisah tersebut, orang itu menyampaikan bahwa ia tidak memiliki banyak bekal amal, tetapi ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Dalam riwayat yang masyhur, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.”

Ibu-ibu, kalimat ini memberikan harapan yang besar kepada kita. Kita mungkin belum memiliki amal sebanyak para ulama. Kita mungkin belum mampu beribadah seperti para ahli ibadah. Kita juga masih mempunyai banyak kekurangan. Akan tetapi, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus terus kita tumbuhkan, sambil berusaha memperbaiki amal dan mengikuti ajaran beliau.

Namun, cinta tidak cukup hanya diucapkan. Kalau kita mengatakan cinta kepada Rasulullah ﷺ, hendaknya cinta itu terlihat dalam ucapan, ibadah, perilaku, dan cara kita memperlakukan orang lain.

Pertanyaannya sekarang, ibu-ibu: setelah berkali-kali menghadiri majelis Maulid, apakah kecintaan kita kepada Rasulullah semakin bertambah? Apakah kita semakin rajin berselawat? Apakah akhlak kita semakin baik?

Jangan sampai lisan kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi perilaku kita justru jauh dari tuntunan beliau.

Mari kita belajar bagaimana para sahabat menunjukkan cinta mereka kepada Rasulullah ﷺ.

 

 

 

3. Belajar Cinta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ibu-ibu, salah seorang sahabat yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ adalah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.

Kecintaan beliau bukan sekadar kata-kata. Beliau membuktikannya dengan kesetiaan, pengorbanan, dan kesediaan mendampingi Rasulullah dalam berbagai keadaan, termasuk ketika berhijrah.

Dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar menunjukkan betapa besar perhatian dan pengorbanannya kepada Rasulullah. Beliau mendampingi Nabi dengan penuh kesetiaan dan mengutamakan keselamatan beliau.

Begitulah cinta yang sesungguhnya. Orang yang mencintai tidak hanya pandai berbicara tentang orang yang dicintainya, tetapi juga berusaha menjaga, mendukung, dan membuktikan cintanya melalui tindakan.

Ibu-ibu, kita mungkin tidak hidup sezaman dengan Rasulullah. Kita tidak bisa mendampingi beliau sebagaimana Abu Bakar. Akan tetapi, kita tetap dapat meneladani kecintaan beliau dengan menjaga ajaran Rasulullah, memperbanyak selawat, mengikuti sunahnya, dan mengamalkan akhlaknya.

Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi ketika ajarannya memerintahkan kita untuk jujur, kita masih berdusta. Ketika ajarannya mengajarkan kesabaran, kita masih mudah marah. Ketika ajarannya mengajarkan kasih sayang, kita justru senang menyakiti orang lain.

Mari kita jadikan cinta kepada Rasulullah sebagai kekuatan untuk memperbaiki diri.

 

4. Belajar Cinta dari Seorang Sahabiyah

Ada pula kisah yang sangat menyentuh tentang seorang perempuan dari kalangan sahabat yang dikenal dalam riwayat Perang Uhud.

Ketika kaum Muslimin kembali dari peperangan, perempuan itu menerima kabar bahwa anggota keluarganya telah gugur. Ia diberi tahu tentang kematian suami, ayah, dan anaknya. Namun, di tengah kesedihan yang begitu berat, ia justru terus bertanya tentang keadaan Rasulullah ﷺ.

Pertanyaannya bukan semata-mata tentang keselamatan keluarganya, melainkan, “Bagaimana keadaan Rasulullah? Apakah beliau selamat?”

Setelah diberi tahu bahwa Rasulullah ﷺ masih hidup dan berada di belakang rombongan, ia segera mencari beliau. Ketika akhirnya melihat Rasulullah dalam keadaan selamat, ia merasa bahwa musibah yang menimpanya menjadi ringan.

Kisah ini menggambarkan betapa besar kecintaan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Mereka tidak hanya mencintai beliau ketika keadaan menyenangkan, tetapi juga menempatkan keselamatan dan perjuangan Rasulullah sebagai sesuatu yang sangat berharga.

Tentu, kita tidak harus mengalami pengorbanan seperti mereka untuk membuktikan cinta. Kita dapat menunjukkan cinta itu melalui kesungguhan beribadah, kesetiaan kepada ajaran Islam, kepedulian terhadap sesama, dan kesediaan memperbaiki akhlak.

Ibu-ibu, mudah-mudahan kecintaan kita kepada Rasulullah bukan sekadar perasaan yang muncul ketika menghadiri Maulid, tetapi menjadi energi yang menggerakkan kita untuk menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan beliau.

 

5. Oleh-Oleh Pertama: Perbanyak Selawat kepada Rasulullah

Ibu-ibu, kalau kita mencintai seseorang, biasanya kita senang menyebut namanya. Orang yang mencintai anaknya senang bercerita tentang anaknya. Orang yang mencintai keluarganya senang membicarakan keluarganya. Bahkan, orang yang mencintai harta sering kali tidak bosan memeriksa saldo dan membicarakan rezekinya.

Nah, kalau kita mencintai Nabi Muhammad ﷺ, salah satu bentuk pengungkapan cinta itu adalah memperbanyak selawat kepada beliau.

Jadi, ibu-ibu, selawatnya jangan hanya ketika berada di majelis. Ketika memasak, boleh berselawat. Ketika menggoreng tempe, berselawat. Ketika mengulek sambal, berselawat. Ketika menyetrika pakaian, berselawat. Ketika mencuci pakaian, berselawat.

Pekerjaan rumah tangga tetap berjalan, tetapi lisan kita juga terisi dengan zikir dan selawat.

Daripada lisan kita sibuk mengeluhkan keadaan, membicarakan kekurangan orang lain, atau mengucapkan perkataan yang menyakiti hati, lebih baik kita membiasakan diri melantunkan selawat.

Mari kita hidupkan suasana rumah dengan selawat. Semoga anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan nama Rasulullah ﷺ, bukan hanya akrab dengan suara televisi atau telepon genggam.

Salah satu selawat yang sering kita lantunkan adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوبِ وَدَوَائِهَا، وَعَافِيَةِ الْأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا، وَنُورِ الْأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Artinya secara ringkas:

“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, penyembuh hati dan obatnya, pemberi kesehatan bagi tubuh dan kesembuhannya, serta cahaya bagi penglihatan dan sinarnya. Limpahkan pula selawat dan salam kepada keluarga dan para sahabat beliau.”

Ibu-ibu, mari kita basahi lisan dengan selawat. Semoga Allah melapangkan hati kita, menguatkan iman kita, dan menjadikan kita semakin dekat dengan Rasulullah ﷺ.

Kita berharap, melalui selawat yang disertai keimanan, ketulusan, dan usaha mengikuti sunah, Allah mengaruniakan kepada kita kecintaan kepada Nabi serta kesempatan memperoleh syafaat beliau dengan izin-Nya.

 

6. Oleh-Oleh Kedua: Meneladani Akhlak Rasulullah

Ibu-ibu yang dirahmati Allah, selain memperbanyak selawat, ada hal kedua yang harus kita bawa pulang dari majelis Maulid: meneladani akhlak Rasulullah ﷺ.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 31).

Ayat ini mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ. Mengikuti Rasulullah bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kejujuran, kesabaran, kesantunan, amanah, dan kasih sayang.

Ketika kita membaca selawat dalam kitab Maulid, misalnya:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

kita sedang memohon kepada Allah agar melimpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Namun, jangan sampai kita hanya melantunkan selawat dengan suara merdu, sedangkan akhlak kita tidak berubah.

Kita mengenal Rasulullah sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Bahkan, sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah dikenal dengan gelar al-Amīn, yaitu orang yang terpercaya.

Karena itu, mari kita bawa pulang sifat amanah dan kejujuran beliau.

Kalau selama ini kita masih suka berbohong kepada suami, anak, atau orang lain, mari kita perbaiki. Kalau kita terbiasa mencari alasan yang tidak benar, mari kita hentikan. Kalau kita pernah menyakiti hati seseorang dengan ucapan, mari kita belajar meminta maaf.

Jangan sampai kita pulang dari majelis Maulid dengan pakaian yang semakin rapi, tetapi perkataan masih menyakiti. Jangan sampai selawat kita semakin banyak, tetapi kebiasaan berdusta tidak berkurang.

Cinta kepada Rasulullah seharusnya menjadikan kita lebih jujur, lebih santun, dan lebih bertanggung jawab.

Termasuk dalam perkara-perkara sederhana. Rasulullah mengajarkan adab dalam makan dan minum, menghormati orang lain, menjaga kebersihan, serta tidak bersikap berlebihan. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang sesuai dengan sunah, jika dilakukan secara konsisten, dapat menjadi bagian dari pendidikan akhlak dalam keluarga.

Jadi, ibu-ibu, mari kita jadikan rumah sebagai tempat pertama untuk menghidupkan akhlak Rasulullah. Suami merasakan kelembutan kita, anak-anak merasakan kasih sayang kita, tetangga merasakan kebaikan kita, dan orang lain merasa aman dari lisan maupun perbuatan kita.

Itulah salah satu bukti bahwa cinta kita kepada Rasulullah benar-benar tumbuh.

 

7. Belajar Bersyukur seperti Rasulullah ﷺ

Ibu-ibu, kita semua tentu berharap dapat masuk surga dan berkumpul bersama Rasulullah ﷺ. Maka, selain memperbanyak selawat dan meneladani akhlaknya, mari kita pelajari pula bagaimana beliau menjalani kehidupan.

Pertama, ketika memperoleh nikmat, kita harus bersyukur.

Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam bersyukur. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah r.a., disebutkan bahwa Rasulullah melaksanakan salat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau bersungguh-sungguh beribadah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau, Rasulullah menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah sepatutnya aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Perhatikan, ibu-ibu. Rasulullah bersyukur bukan hanya dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga dengan meningkatkan ibadah kepada Allah.

Kalau kita mendapat rezeki, bersyukurlah. Kalau anak-anak kita memperoleh keberhasilan, bersyukurlah. Kalau keluarga kita diberi kesehatan, bersyukurlah. Kalau urusan kita dimudahkan, bersyukurlah.

Namun, rasa syukur itu hendaknya tidak berhenti pada ucapan. Syukur juga diwujudkan dengan menggunakan nikmat untuk kebaikan.

Kalau Allah memberikan kesehatan, gunakan untuk beribadah. Kalau Allah memberikan rezeki, gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu orang yang membutuhkan. Kalau Allah memberikan ilmu, gunakan untuk mengajar dan membimbing orang lain.

Kalau selama ini kita belum terbiasa salat malam, mari mulai belajar. Tidak perlu langsung banyak. Mulailah sesuai kemampuan, kemudian tingkatkan secara bertahap dan istiqamah.

Semoga setelah pulang dari majelis ini, salat kita semakin baik, zikir kita semakin teratur, dan bacaan Al-Qur’an kita semakin meningkat.

 

8. Belajar Bersabar seperti Rasulullah ﷺ

Kedua, ketika mendapatkan ujian, kita harus bersabar.

Ibu-ibu, setiap orang mempunyai ujian masing-masing. Ada yang diuji dengan kesulitan ekonomi, ada yang menghadapi masalah keluarga, ada yang sedang sakit, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang diuji melalui perkataan atau perlakuan orang lain.

Bentuk ujian kita berbeda-beda, tetapi kita mempunyai teladan yang sama, yaitu Rasulullah ﷺ.

Beliau mengalami kehilangan orang-orang yang dicintai, menghadapi penolakan, dan menerima berbagai perlakuan buruk. Bahkan, dalam salah satu peristiwa ketika beliau sedang salat di dekat Ka'bah, orang-orang yang memusuhinya meletakkan kotoran unta di punggung beliau.

Bayangkan, ibu-ibu. Rasulullah adalah manusia yang paling mulia, tetapi beliau tetap menghadapi penghinaan dan perlakuan yang menyakitkan.

Meskipun demikian, beliau tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai alasan untuk meninggalkan akhlak yang mulia.

Karena itu, kalau hari ini kita sedang mengalami kesulitan ekonomi, jangan berkecil hati. Tetaplah berusaha, berdoa, dan bersabar. Kalau kita sedang menghadapi persoalan keluarga, jangan terburu-buru berputus asa. Carilah jalan keluar dengan bijaksana. Kalau ada orang yang merendahkan kita, jangan sampai penghinaan itu membuat kita kehilangan kehormatan akhlak.

Sabar bukan berarti membiarkan kezaliman atau tidak mencari solusi. Sabar berarti tetap berada dalam ketaatan kepada Allah, mengendalikan diri, dan menempuh jalan yang benar ketika menghadapi kesulitan.

Kalau ada orang berbicara tidak baik kepada kita, apakah harus dibalas dengan perkataan yang lebih buruk?

Mari kita belajar menahan diri. Tidak semua perkataan perlu dijawab. Tidak semua perselisihan harus diperpanjang. Ada kalanya diam, memaafkan, dan mendoakan kebaikan justru lebih mulia.

Kalau ada yang menyakiti hati kita, jangan buru-buru membalas. Kita bisa mengatakan dalam hati, “Saya tidak ingin kehilangan akhlak hanya karena perilaku orang lain.”

Itulah salah satu pelajaran dari Rasulullah ﷺ: ketika mendapatkan nikmat, bersyukur; ketika mendapatkan ujian, bersabar; dan dalam kedua keadaan itu, tetap menjaga hubungan dengan Allah.

 

9. Penutup: Semoga Dikumpulkan Bersama Rasulullah ﷺ

Ibu-ibu yang dirahmati Allah, marilah kita membawa pulang tiga pesan penting dari majelis ini.

Pertama, perbanyak selawat kepada Rasulullah ﷺ. Jadikan selawat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika memasak, bekerja, beristirahat, atau melakukan pekerjaan rumah tangga, isilah waktu dengan zikir dan selawat.

Kedua, buktikan cinta kepada Rasulullah dengan meneladani akhlaknya. Jadilah pribadi yang jujur, amanah, santun, sabar, dan penuh kasih sayang. Jangan sampai kita hanya pandai menyebut nama beliau, tetapi tidak berusaha mengikuti ajarannya.

Ketiga, belajarlah bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika menghadapi ujian. Tingkatkan ibadah saat Allah memberikan kelapangan dan tetaplah mendekat kepada-Nya ketika hidup terasa berat.

Mudah-mudahan majelis Maulid ini tidak berhenti sebagai acara yang kita hadiri, tetapi menjadi awal perubahan dalam kehidupan kita.

Semoga lisan kita semakin basah dengan selawat, hati kita semakin dipenuhi kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, dan perilaku kita semakin mencerminkan akhlak beliau.

Ya Allah, tanamkanlah dalam hati kami kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada Rasul-Mu. Bimbinglah kami agar mampu mengikuti sunahnya, memperbaiki akhlak kami, serta istiqamah dalam menjalankan perintah-Mu.

Ya Allah, jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Karuniakan kesehatan kepada yang sedang sakit, kelapangan kepada yang sedang menghadapi kesulitan, jalan keluar kepada yang sedang mempunyai masalah, dan rezeki yang halal serta berkah kepada seluruh keluarga kami.

Ya Allah, jangan Engkau jadikan kami hanya pandai mengucapkan cinta kepada Rasulullah, tetapi bimbinglah kami agar mampu membuktikannya melalui iman, ibadah, dan akhlak yang mulia.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesempatan memperoleh syafaat Nabi Muhammad ﷺ dengan izin-Mu, dan kumpulkanlah kami bersama beliau di surga-Mu.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Subḥāna rabbika rabbil ‘izzati ‘ammā yaṣifūn, wa salāmun ‘alal-mursalīn, wal-ḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sambutan perpisahan kelas 6

MENJAGA KEHALALAN REZEKI DAN KEMURNIAN AMAL

3 Golongan masuk surga tanpa di hisab