Keberkahan Umur: Ketika Sedikit Menjadi Bernilai Besar
Keberkahan Umur: Ketika Sedikit Menjadi Bernilai Besar
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tidak semua umur yang panjang adalah keberkahan.
Dan tidak semua umur yang pendek adalah kerugian.
Yang menentukan nilai umur bukan panjang atau pendeknya waktu, tetapi sejauh mana umur itu diberkahi oleh Allah.
Seseorang boleh saja hidup tujuh puluh tahun, delapan puluh tahun, bahkan sembilan puluh tahun. Namun jika umur itu berlalu tanpa hidayah, tanpa taufik, dan tanpa amal yang bernilai, maka panjangnya usia tidak banyak memberi arti.
Sebaliknya, ada orang yang umurnya singkat, tetapi Allah limpahkan keberkahan kepadanya. Maka dalam waktu yang sedikit itu ia mampu mengumpulkan amal yang besar, memperoleh makrifat, dan mencapai kedekatan dengan Allah yang tidak mampu dicapai oleh orang lain dalam waktu yang panjang.
Para ulama menjelaskan bahwa keberkahan umur adalah ketika Allah memberikan kepada seorang hamba kecerdikan, kepandaian, dan taufik untuk memanfaatkan waktunya dengan benar.
Orang yang diberkahi umurnya adalah orang yang pandai membaca kesempatan.
Ia takut kehilangan waktu.
Ia sadar bahwa umur adalah modal yang terbatas.
Karena itu, ia tidak menyia-nyiakan waktunya.
Ia bersegera menuju amal-amal kebaikan, baik amal yang bersifat lahir maupun amal yang bersifat batin.
Ia menggunakan seluruh kemampuannya untuk mendekat kepada Allah.
Dan dari kesungguhan itu, Allah bukakan baginya anugerah-anugerah besar; hidayah, taufik, dan makrifat kepada-Nya.
Makrifat yang kadang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Karena sebagian anugerah Allah hanya bisa dirasakan, bukan digambarkan.
Cerdas Memilih Amal
Keberkahan umur tidak hanya terletak pada banyaknya amal, tetapi pada ketepatan amal.
Banyak orang beramal, tetapi tidak semua memahami amal mana yang paling tepat pada waktunya.
Padahal setiap waktu memiliki tuntutan ibadahnya sendiri.
Setiap keadaan memiliki dzikirnya sendiri.
Dan orang yang diberi kecerdikan oleh Allah adalah orang yang mengetahui apa yang paling utama dikerjakan pada suatu waktu.
Semua dzikir itu baik.
Membaca لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ adalah baik.
Membaca Al-Qur’an adalah baik.
Bershalawat adalah baik.
Bertasbih adalah baik.
Namun dalam keadaan tertentu, ada dzikir yang lebih utama daripada dzikir lainnya.
Misalnya ketika hendak makan.
Pada saat itu, dzikir yang paling utama adalah membaca:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bukan karena dzikir lain tidak baik.
Tetapi karena itulah dzikir yang paling sesuai dengan waktunya.
Membaca basmalah sekali pada waktu makan lebih utama daripada membaca tahlil seratus kali tetapi meninggalkan sunnah basmalah.
Demikian pula setelah selesai makan.
Dzikir yang paling utama saat itu adalah memuji Allah.
Mengucapkan Alhamdulillah pada waktunya lebih utama daripada memperbanyak dzikir lain yang tidak sesuai dengan keadaan saat itu.
Begitu juga ketika hendak tidur.
Dzikir yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأَمُوتُ
Dan ketika bangun tidur:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Orang yang umurnya diberkahi adalah orang yang mengetahui adab-adab seperti ini.
Mungkin amalnya sedikit, tetapi nilainya besar di sisi Allah.
Karena tepat pada tempatnya.
Hakikat Keberkahan Umur
Berkah umur bukan berarti panjangnya malam dan siang yang dilalui.
Bukan pula banyaknya tahun yang dihabiskan.
Keberkahan umur adalah ketika sepanjang umur itu Allah sertakan hidayah, taufik, pertolongan, dan penerimaan amal.
Dalam doa, kita diajarkan untuk memohon:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا
“Ya Allah, berkahilah umur kami.”
Perhatikan, yang diminta bukan sekadar panjang umur.
Tetapi keberkahan umur.
Karena umur panjang tanpa keberkahan bisa menjadi beban.
Sedangkan umur singkat dengan keberkahan bisa menjadi jalan menuju derajat tinggi di sisi Allah.
Amal Itu Bertingkat
Salah satu bentuk keberkahan umur adalah mengetahui tingkatan amal.
Sebab amal itu memiliki derajat.
Ada amal wajib.
Ada amal sunnah.
Dan dalam amal wajib sendiri ada yang lebih utama untuk didahulukan.
Begitu pula dalam amal sunnah.
Tidak semua amal memiliki nilai yang sama.
Orang yang tidak memahami prioritas amal kadang terjatuh pada kesalahan besar: mendahulukan yang kurang utama dan melalaikan yang lebih utama.
Misalnya seseorang rajin bersedekah, tetapi masih memiliki hutang yang belum dibayar.
Secara lahir, sedekah adalah amal baik.
Tetapi membayar hutang adalah kewajiban yang lebih utama.
Maka mendahulukan sedekah sementara menunda hutang adalah bentuk ketidaktepatan dalam beramal.
Atau seseorang rajin shalat sunnah: tahajud, dhuha, witir, dan berbagai amalan sunnah lainnya.
Namun ia lalai menjaga shalat wajib.
Maka seluruh amal sunnah itu tidak akan bisa menggantikan nilai satu shalat wajib yang ditinggalkan.
Karena amal wajib lebih tinggi derajatnya.
Orang yang diberi keberkahan umur memahami urutan ini.
Ia tahu mana yang harus didahulukan.
Mana yang paling dicintai Allah.
Mana yang paling bernilai.
Mendahulukan yang Lebih Utama
Keberkahan umur juga terlihat dari kemampuan menempatkan kebaikan pada tempatnya.
Misalnya dalam membantu orang lain.
Membantu sesama adalah amal mulia.
Menyumbang adalah amal baik.
Namun jika seseorang gemar membantu orang luar, sementara orang tuanya sendiri kekurangan, keluarganya sendiri kesulitan, kerabat dekatnya sendiri membutuhkan pertolongan, maka ia telah meninggalkan yang lebih utama.
Dalam agama, orang tua lebih utama untuk dibantu.
Keluarga dekat lebih utama untuk diperhatikan.
Kerabat yang membutuhkan lebih utama untuk disantuni.
Maka keberkahan umur membuat seseorang mampu memahami skala prioritas dalam kebaikan.
Bukan sekadar banyak berbuat, tetapi tepat dalam berbuat.
Sedikit yang Bernilai Besar
Orang yang diberkahi umurnya kadang terlihat sedikit amalnya dibanding orang lain.
Tetapi nilai amalnya besar.
Karena ia mengerjakan yang paling utama.
Yang paling dicintai Allah.
Yang paling dibutuhkan pada waktunya.
Satu amal kecil yang tepat kadang lebih besar nilainya daripada banyak amal yang tidak tepat.
Karena Allah melihat kualitas, bukan hanya kuantitas.
Maka keberkahan umur bukan tentang berapa lama kita hidup.
Tetapi tentang bagaimana kita hidup.
Bukan tentang berapa banyak amal yang kita kumpulkan.
Tetapi tentang seberapa tepat amal itu di sisi Allah.
Penutup
Umur adalah amanah.
Waktu adalah modal.
Dan kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Orang yang diberkahi umurnya adalah orang yang diberi kecerdasan untuk memilih amal yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan niat yang tepat.
Ia tidak sekadar sibuk beramal.
Tetapi sibuk memilih amal yang paling Allah cintai.
Ia tidak sekadar memperbanyak ibadah.
Tetapi memperindah kualitas ibadah.
Karena pada akhirnya, yang membuat umur bernilai bukan panjangnya masa hidup.
Tetapi keberkahan yang Allah letakkan di dalamnya.
Dan keberkahan itu lahir dari hidayah, taufik, ilmu, dan kecerdasan dalam menggunakan waktu.
Maka mintalah kepada Allah bukan hanya umur panjang.
Tetapi umur yang penuh keberkahan.
Sebab umur yang berkah, walau sedikit, bisa bernilai lebih besar daripada umur panjang tanpa arah.
Komentar
Posting Komentar