hadits 25 Banyak Jalan Menuju Pahala

 

KHUTBAH JUMAT

Tema: Banyak Jalan Menuju Pahala

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Ketakwaan itulah bekal terbaik menuju akhirat. Dunia ini sebentar, umur kita terbatas, kesempatan kita tidak panjang, dan setiap hari sesungguhnya kita sedang mendekat kepada Allah.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada satu kegelisahan mulia yang pernah dirasakan para sahabat Nabi ﷺ.

Bukan gelisah karena kurang harta.

Bukan gelisah karena kalah jabatan.

Bukan gelisah karena kalah popularitas.

Tetapi gelisah karena takut kalah dalam pahala.

Dengarkan hadits agung ini.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالُوا:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ

“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa pergi pahala.”

Kenapa?

Karena mereka shalat seperti kami.

Mereka puasa seperti kami.

Tapi mereka punya kelebihan: mereka bisa bersedekah dengan harta.

Lalu Rasulullah ﷺ menjawab:

أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ؟

“Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian sesuatu untuk bersedekah?”

Lalu beliau bersabda:

إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ...

(HR. Muslim)

Jamaah rahimakumullah,

Hadits ini mengajarkan satu pelajaran besar:

jalan menuju pahala itu sangat banyak.

Banyak orang mengira ibadah itu hanya butuh uang.

Padahal tidak.

Sedekah bukan hanya uang.

Subhanallah itu sedekah.

Alhamdulillah itu sedekah.

Allahu Akbar itu sedekah.

La ilaha illallah itu sedekah.

Mengajak kebaikan itu sedekah.

Mencegah kemungkaran itu sedekah.

Bahkan yang halal dalam rumah tangga pun bernilai pahala.

Artinya apa?

Allah membuka pintu pahala untuk semua orang.

Untuk kaya.

Untuk miskin.

Untuk kuat.

Untuk lemah.

Untuk pejabat.

Untuk rakyat biasa.

Tidak ada alasan untuk tidak beramal.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Lihatlah para sahabat.

Mereka tidak iri dengan kekayaan orang kaya.

Yang mereka iri adalah pahalanya.

Ini namanya ghirah fil khair—semangat berlomba dalam kebaikan.

Allah berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

(QS. Al-Baqarah: 148)

Hari ini banyak manusia berlomba dalam dunia.

Berlomba kaya.

Berlomba rumah besar.

Berlomba kendaraan mewah.

Berlomba jabatan.

Tapi sedikit yang berlomba dalam pahala.

Sedikit yang bertanya:

Sudah berapa juz Qur’an saya baca?

Sudah berapa banyak istighfar hari ini?

Sudah berapa banyak orang saya bantu?

Sudah berapa dosa yang saya tinggalkan?

Saudaraku,

Kalau kita tidak punya harta, jangan merasa miskin di hadapan Allah.

Karena pahala tidak hanya dengan uang.

Lisan kita bisa beramal.

Hati kita bisa beramal.

Tenaga kita bisa beramal.

Waktu kita bisa beramal.

Senyum kita bisa beramal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Betapa luas rahmat Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ memulai daftar sedekah itu dengan dzikir.

Kenapa?

Karena dzikir adalah makanan hati.

Hati yang hidup dengan dzikir akan hidup dengan iman.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Hari ini banyak orang gelisah.

Banyak orang cemas.

Banyak orang resah.

Kenapa?

Karena lisannya sibuk dengan dunia, tapi jarang berdzikir kepada Allah.

Pagi sibuk HP.

Siang sibuk bisnis.

Malam sibuk hiburan.

Tapi kapan sibuk mengingat Allah?

Padahal satu tasbih bernilai sedekah.

Satu tahmid bernilai sedekah.

Satu tahlil bernilai sedekah.

Bayangkan...

Kalau setiap hari kita membaca seratus kali Subhanallah.

Seratus kali Alhamdulillah.

Seratus kali Astaghfirullah.

Berapa pahala yang Allah siapkan?

Masalahnya bukan sulit.

Masalahnya kita lalai.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hadits ini juga mengajarkan:

Dalam Islam, aktivitas dunia bisa menjadi ibadah.

Bahkan Rasulullah ﷺ mengatakan hubungan suami-istri yang halal pun berpahala.

Kenapa?

Karena niat dan cara yang benar.

Ini pelajaran besar:

Makan bisa jadi ibadah.

Tidur bisa jadi ibadah.

Bekerja bisa jadi ibadah.

Belajar bisa jadi ibadah.

Mendidik anak bisa jadi ibadah.

Mencari nafkah bisa jadi ibadah.

Asalkan niatnya benar.

Karena amal tanpa niat hanya kebiasaan.

Tapi amal dengan niat menjadi ibadah.

Maka luruskan niat kita.

Bekerja bukan hanya cari uang.

Tetapi mencari nafkah halal.

Belajar bukan hanya cari ijazah.

Tetapi mencari ilmu yang bermanfaat.

Mendidik anak bukan hanya agar sukses.

Tetapi agar menjadi ahli surga.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada pelajaran penting dari hadits ini:

Jangan pernah merasa kecil di hadapan Allah hanya karena keadaan dunia.

Miskin bukan berarti sedikit peluang pahala.

Tidak terkenal bukan berarti sedikit kesempatan masuk surga.

Tidak punya jabatan bukan berarti jauh dari ridha Allah.

Yang Allah lihat bukan banyaknya harta.

Tetapi ketakwaan.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Betapa banyak orang miskin yang lebih mulia dari orang kaya.

Betapa banyak orang sederhana yang lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.

Karena ukuran Allah bukan rekening.

Ukuran Allah adalah hati.

Jamaah sekalian,

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa niat bisa menyamai amal.

Orang yang punya niat tulus untuk kebaikan akan diberi pahala, walau belum mampu melakukannya.

Maka jangan remehkan niat baik.

Niat sedekah.

Niat bangun malam.

Niat menolong orang.

Niat belajar agama.

Niat memperbaiki diri.

Karena niat adalah awal perjalanan menuju Allah.

Maka setelah pulang dari masjid ini:

Perbanyak dzikir.

Perbanyak istighfar.

Perbanyak amal kecil.

Jangan tunggu kaya untuk sedekah.

Jangan tunggu tua untuk ibadah.

Jangan tunggu lapang untuk berbuat baik.

Karena jalan menuju surga tidak hanya satu.

Pintunya banyak.

Dan Allah telah membukanya untuk kita.

Tinggal: maukah kita masuk?

Mari jadikan setiap detik hidup bernilai pahala.

Setiap ucapan bernilai pahala.

Setiap langkah bernilai pahala.

Setiap pekerjaan bernilai pahala.

Agar ketika kita kembali kepada Allah, kita pulang membawa amal yang banyak.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا رَطْبَةً بِذِكْرِكَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا صَالِحَةً، وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHUTBAH IDUL ADHA 1446/ 2025

TAKHALLI, TAHALLI, DAN TAJALLI

BERSYUKUR